Dosen Pendidikan Matematika UNIPMA Perkuat Literasi, Numerasi, dan Digital Learning Guru SMK PSM 2 Takeran 

MAGETAN — Program Studi Pendidikan Matematika Universitas PGRI Madiun (UNIPMA) turut berkontribusi dalam peningkatan kompetensi guru melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Penguatan Literasi, Numerasi, dan Digital Learning: Pelatihan bagi Guru SMK PSM 2 Takeran dalam Merancang Pembelajaran Kontekstual dan Digital.” Kegiatan dilaksanakan di SMK PSM 2 Takeran, Kabupaten Magetan, pada Kamis, 6 Agustus 2026, dengan melibatkan sebanyak 32 guru sebagai peserta.

Kegiatan menghadirkan Dr. Swasti Maharani, S.Pd., M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Matematika Universitas PGRI Madiun, sebagai narasumber. Workshop dirancang untuk memperkuat pemahaman dan keterampilan guru dalam mengintegrasikan literasi, numerasi, serta pemanfaatan teknologi digital ke dalam proses pembelajaran. Pelaksanaan kegiatan berlangsung secara interaktif melalui pemaparan materi, analisis contoh lintas mata pelajaran, diskusi, demonstrasi aplikasi digital dan kecerdasan artifisial, serta evaluasi kegiatan.

Materi workshop menekankan bahwa literasi, numerasi, dan digital learning tidak seharusnya dipandang sebagai tiga kemampuan yang berdiri sendiri. Ketiganya dapat diintegrasikan dalam aktivitas pembelajaran yang mendorong siswa memahami informasi, menalar data, mengambil keputusan, serta memanfaatkan teknologi untuk mengolah dan mengomunikasikan hasil. Pendekatan tersebut diarahkan agar pembelajaran lebih kontekstual dan dekat dengan situasi nyata yang dihadapi siswa SMK.

Beragam contoh aktivitas pembelajaran turut diberikan kepada peserta. Guru diajak mengembangkan pembelajaran melalui konteks seperti pemilihan alat produksi berdasarkan harga, konsumsi listrik, lama kerja, kapasitas produksi, serta biaya perawatan. Contoh lainnya mencakup analisis iklan digital pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, promo toko daring pada Matematika, serta pengelolaan zakat dan dana sosial pada Pendidikan Agama. Melalui contoh tersebut, guru memperoleh gambaran bahwa penguatan literasi dan numerasi dapat diterapkan lintas mata pelajaran tanpa harus menjadi materi yang terpisah.

Penguatan kompetensi digital menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan ini. Peserta diperkenalkan pada prinsip bahwa pemilihan aplikasi perlu didasarkan pada aktivitas dan tujuan pembelajaran, bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi. Pemanfaatan kecerdasan artifisial juga dibahas sebagai sarana pendukung bagi guru dalam mencari konteks pembelajaran, menyusun draf aktivitas, mengembangkan pertanyaan dan rubrik, serta menghasilkan variasi media pembelajaran. Sejumlah aplikasi seperti ChatGPT, Gemini, MagicSchool, Canva, Gamma, CapCut, Kahoot, dan Wayground diperkenalkan sesuai dengan fungsi dan kebutuhan pembelajaran masing-masing.

Respons peserta terhadap kegiatan menunjukkan hasil yang sangat positif. Evaluasi kegiatan memperoleh rerata keseluruhan 4,90 dari skala 5 dengan kategori sangat baik. Aspek metode dan pelaksanaan memperoleh skor tertinggi sebesar 4,96, sedangkan relevansi dan kualitas materi serta kompetensi narasumber masing-masing memperoleh skor 4,92. Aspek manfaat dan dampak kegiatan memperoleh skor 4,80 dan kepuasan umum sebesar 4,87, yang seluruhnya termasuk kategori sangat baik.

Antusiasme peserta juga terlihat dari tingginya ketertarikan terhadap penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran. ChatGPT menjadi salah satu aplikasi yang paling banyak diminati, disusul Canva, Gamma, dan Kahoot. Kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan guru terhadap pemanfaatan AI untuk mendukung perencanaan pembelajaran, aplikasi visual untuk menghasilkan media, serta platform asesmen yang mampu menciptakan pengalaman belajar lebih interaktif.

Kegiatan ini menjadi salah satu wujud kontribusi Program Studi Pendidikan Matematika Universitas PGRI Madiun dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat. Kolaborasi dengan sekolah diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat berkembang melalui pendampingan dan pelatihan lanjutan yang lebih berorientasi pada praktik. Pengembangan LKPD digital, media pembelajaran berbantuan AI, asesmen interaktif, serta pendampingan implementasi di kelas menjadi beberapa alternatif program yang dapat dikembangkan pada kegiatan berikutnya.